Attack wins you games; defence wins you titles. Ini petuah Sir Alex Ferguson yang akrab di telinga sebagian besar fans Manchester United, tapi belum kunjung direalisasikan sepeninggalnya.
Masuknya Ole Gunnar Solskjaer lagi-lagi menumbuhkan harapan bagi United di era post-Fergie untuk kembali berjaya. Setelah kegagalan bersama David Moyes, Louis van Gaal dan Jose Mourinho pun belum mampu membawa United mengangkat trofi Liga Premier.
Jika ingin berkaca pada masa emas Sir Alex, satu hal yang luput saat ini adalah peran bek tengah. Saya mengamati bahwa belum ada partnership bek tengah United yang solid dan dapat bermain tiap pekan. Ketiga manajer setelah Sir Alex begitu frekuen melakukan bongkar pasang bek tengah, dan hasilnya hanya semakin memperlihatkan bahwa David De Gea adalah kiper terbaik dunia.
Seperti yang diakui Sir Alex, dua bek tengah yang solid adalah fondasi tim. Dengan duet bek tengah yang padu, Sir Alex membangun konsistensi, kesinambungan, dan kestabilan. Ia membuktikannya dengan tiga pasang pemain: Steve Bruce-Gary Pallister, Jaap Stam-Ronny Johnsen, serta Rio Ferdinand-Nemanja Vidic.
Bruce dan Pallister merengkuh tiga titel liga pada 1992/93, 1993/94, dan 1995/96. Stam dan Johnsen berhasil meraih trofi Liga Champions 1998/99 serta titel liga pada 1998/99 dan 2000/01. Sementara itu, Ferdinand dan Vidic meraih enam titel liga dalam kurun waktu 2006 hingga 2013, sekaligus membawa United juara Liga Champions 2007/08.
Berbicara tentang kemampuan, bek tengah sukses yang dimiliki United setidaknya memiliki atribut-atribut ini: kecepatan, kekuatan fisik, ketangguhan, dan mampu membawa bola ke depan.
Pallister adalah pemain yang gesit, kuat, dan mampu membantu serangan. Ferdinand mampu berlari dan mengoper bola ke depan. Vidic, Johnsen, dan Stam sangat tangguh berduel udara dan bermain fisikal tanpa kompromi.
Bruce pun dikenal dari cerita Sir Alex: ia mampu memaksa bermain melawan Liverpool setelah pekan sebelumnya cedera otot lutut dan masih pincang dua hari sebelum pertandingan. Walaupun Bruce sering mengusap lututnya selama bermain, ia bertahan hingga peluit akhir.
Setelah Ferdinand-Vidic, belum ada lagi duet bek tengah yang bisa diandalkan. Pada era Moyes (2013/14), Ferdinand-Vidic masih dimainkan walau mereka sudah berusia lebih dari 30 tahun. Tak dipungkiri lagi kecepatan mereka semakin menurun dan akhirnya mengakhiri karir di United pada akhir musim tersebut—musim yang sangat menyedihkan bagi fans United.
Selanjutnya, masuknya van Gaal (2014-16) setelah hasil apiknya bersama Belanda di Piala Dunia 2014 membuat United bermain dengan tiga bek tengah. Chris Smalling sempat menunjukkan konsistensinya, namun sayangnya diiringi rotasi frekuen pemain debutan—Paddy McNair, Donald Love, Tyler Blackett, dan Timothy Fosu-Mensah.
Keempat nama terakhir belum bisa diandalkan untuk kompetisi top-flight semacam Premier League yang kualitas pemainnya semakin meningkat. Mereka belum setara, setidaknya dengan tingkat permainan Ferdinand saat muda. Bek tengah lain seperti Daley Blind dan Marcos Rojo juga kurang istimewa.
Pada era Mourinho (2016-18), tidak ada satu pun bek tengah yang mampu menembus 30 penampilan di liga. Ini diakibatkan para pemain belakang silih berganti diterpa cedera.
Pada musim kedua Mourinho, Smalling menjadi tumpuan dengan 29 penampilan. Namun, masih belum ada juga partnership ‘ikonik’ walau rekor defensifnya bagus—kebobolan 29 dan 28 gol di dua musim awal. Statistik itu sebenarnya lebih dibantu oleh taktik Mourinho yang pragmatis dan tidak jarang ‘parkir bus’ setelah unggul.
Meskipun setiap manajer memiliki perspektif berbeda dalam membangun sebuah tim, perlunya partnership bek tengah yang konsisten dalam lima musim terakhir masih relevan.
Dalam konteks juara Premier League, itu terbukti: John Terry-Gary Cahill (2014/15); Wes Morgan-Robert Huth (2015/16); Gary Cahill-David Luiz-Cesar Azpilicueta yang bermain dengan skema tiga bek tengah (2016/17); dan hanya Nicolas Otamendi (2017/18) yang memiliki tandem berbeda-beda. Masalah cedera bek tengah Manchester City teratasi karena Guardiola lebih senang membangun kekuatan dari poros gelandang.
Menemukan partnership semacam itu membutuhkan waktu. Sir Alex mengakui bahwa hal ini bisa merepotkan. Sebelum menemukan Bruce dan Pallister, ia memiliki beberapa opsi lain seperti Paul McGrath, Kevin Moran, dan Graeme Hogg. Tetapi, ketiganya memiliki masalah masing-masing—McGrath dan Moran sering cedera, sementara Hogg gagal memenuhi ekspektasi.
Vidic, yang didatangkan tiga setengah tahun setelah Ferdinand, juga membutuhkan waktu untuk beradaptasi sebelum keduanya tidak membiarkan semuanya melewati mereka.
Di bawah Sir Alex, Solskjaer tentu merasakan tim yang dibangun dari bek tengah. Ia bermain bersama Stam-Johnsen dan Ferdinand-Vidic. Sebagai permulaan, setidaknya Solskjaer dapat memanfaatkan terlebih dahulu bek tengah yang sudah ada.
Victor Lindelof memiliki ketangguhan dan bisa membawa bola ke depan. Eric Bailly memiliki kecepatan dan kemampuan duel udara yang cukup impresif. Phil Jones dan Smalling, yang berpengalaman namun belum kunjung menjadi Ferdinand-Vidic baru, masih bisa diuji kembali layak atau tidaknya berseragam United. Begitu pula dengan finalis Piala Dunia 2014, Marcos Rojo.
Solskjaer sendiri selalu memasang Lindelof dan Jones di beberapa laga awalnya sebagai manajer United. Saya melihat bahwa manajer asal Norwegia itu memahami apa yang sudah Sir Alex lakukan.
Pernyataan Sir Alex sendiri sedikit meyakinkan saya: Solskjaer adalah orang yang memiliki akal analitis. Dalam sesi latihan ataupun ketika dicadangkan semasa bermain, Solskjaer selalu membuat catatan mengenai lawan, posisi mereka, dan semua yang terjadi. Tidak heran ia menjelma sebagai pemain yang kerap menentukan kemenangan. Bekal yang sekiranya bisa berharga juga dengan pekerjaan barunya.
Jika ternyata mentok, saya berharap Solskjaer akan membeli bek muda yang punya potensi menjadi pemain besar. Ini seperti yang dilakukan Sir Alex ketika membeli Ferdinand pada 2002 dengan kocek 30 juta Poundsterling—sangat mahal untuk saat itu. Tetapi, kemampuan dan potensinya sudah terlihat, bahkan saat masih dipinjamkan ke Bournemouth pada 1997. Total 14 trofi dalam 12 tahunnya di United membuat harga pembeliannya terlihat murah.
Sekali lagi, saya ingin mengutip Sir Alex, bahwa Solskjaer semasa bermain bukanlah penyerang yang agresif, namun sangat mematikan bagi lawan. Menarik untuk ditunggu apakah killer instinct-nya cepat berbuah prestasi. Di era sepakbola yang nilai kesabaran untuk seorang manajer semakin tidak dipedulikan ini, Solskjaer perlu cepat-cepat membuktikan killer instinct-nya. Kalau berhasil, ia bisa memantapkan diri sejenak di posisi manajer apabila punya rencana membangun kembali kejayaan United—yang semoga diinisiasi dengan membangun duet bek tengah yang solid.
*
Artikel ini ialah buah dari secuplik ide/tema buku Alex Ferguson: My Autobiography (Hodder & Stoughton, 2013) . Seluruh kutipan berasal dari sumber yang sama.
