Penggunaan big data untuk decision-making dan operasional yang efektif tidak hanya sukses di konteks bisnis saja. Timnas sepakbola Jerman telah memanfaatkannya hingga berhasil menjuarai Piala Dunia 2014.
Lingkungan digital yang kita tempati saat ini merekam seluruh jejak kita dengan wujud kumpulan data. Kumpulan data masif, biasa disebut big data, bisa ditemui dalam bentuk tulisan, numerik, rekaman suara, gambar, hingga video. Volume data tersebut berkembang begitu pesat tiap detiknya.
Namun, perlu diketahui bahwa kekuatan dari big data bukanlah beragamnya data itu sendiri, tetapi bagaimana kita memanfaatkannya. Dengan memiliki tujuan spesifik, skillset, dan infrastruktur data yang memadai, sebuah tim sepak bola dapat diuntungkan dengan: (1) ketepatan pengambilan keputusan—tidak sekadar asumsi dan firasat; serta (2) efektivitas dan efisiensi aktivitas operasional.
Dalam hal pengambilan keputusan, penggunaan data dikembalikan kepada prioritas tim dan masalah yang belum terjawab: siapa lawan mereka, preferensi bermainnya, taktik, dan segala situasi yang sudah dan mungkin terjadi. Seluruh data tersebut dihimpun dan dikurasi menjadi dataset spesifik. Dengan data yang tepat, tim sepakbola mampu mengidentifikasi gambaran akurat tim lawan untuk membuat keputusan.
Selanjutnya, keputusan yang telah dieksekusi menghasilkan kumpulan data baru. Di sini, data berperan untuk mengembangkan operasional—memperbaiki pekerjaan dan menyajikan performa terbaik. Oleh karenanya, transformasi operasional merupakan langkah yang tak kalah besar daripada pengambilan keputusan itu sendiri.
Pada industri manufaktur, transformasi operasional mungkin lebih mengarah ke machine-to-machine communications, sebagaimana sifat teknologi automasi. Namun, dalam konteks tim sepak bola, ini lebih berupa ‘humans working with data’.
Selama Piala Dunia 2014, Timnas Jerman menggunakan Match Insight (MI). MI adalah aplikasi yang dirancang khusus untuk Timnas Jerman oleh SAP, perusahaan big data raksasa asal Walldorf, Jerman. MI adalah video analysis tool yang lengkap dengan anotasi serta fitur interaksi untuk seluruh personil tim.
Penggunaan MI untuk Jerman di 2014 sendiri dicanangkan oleh Oliver Bierhoff, General Manager sekaligus mantan pemain Timnas Jerman, setelah melihat eksibisi MI di pameran komputer CEBIT di Hannover, Jerman, 2013.
Dengan MI, seluruh pemain bisa menjelajah berbagai pertandingan, tim, dan pemain lawan. Sebelum partai semifinal melawan Brazil, Christian Clemens (scout Timnas Jerman) mengetahui bahwa Neymar dan Thiago Silva tidak akan bermain karena cedera dan akumulasi kartu. Ia kemudian menyiapkan materi video Timnas Brazil yang bermain tanpa keduanya dalam empat tahun terakhir.
Klip performa pemain pengganti Neymar dan Silva, serta key performance-nya, dikirimkan kepada pemain Timnas Jerman yang relevan. Dengan beberapa klik, Benedikt Howedes dkk. bisa melihat permainan calon pengganti Neymar, yakni Hulk dan Bernard Duarte, di laga sebelumnya. Momen kunci seperti tendangan bebas, tendangan penjuru, dan gol pun tersedia.
Lebih jauh lagi, skuat Jerman disuguhkan klip spesifik seperti pergerakan empat bek, atau bagaimana lini depan Brazil bekerja, dalam beberapa tahun terakhir.
Contoh penggunaan MI dalam konteks individu bisa dilihat dari Jerome Boateng. Sebelum melawan Portugal, ia mengulang klip pergerakan Cristiano Ronaldo secara terus-menerus. Boateng mengidentifikasi bahwa Ronaldo memiliki kebiasaan melepaskan diri dengan bek lawan dengan cara tertentu.
Kenyataannya, Boateng berhasil meredam Ronaldo dan Nationalmannschaft menang 4-0. Namun, ini tidak bermaksud menjustifikasi MI sebagai kunci kemenangan, tetapi lebih bagaimana Boateng dan kompatriot memanfaatkannya. Kita bisa membayangkan signifikansi MI bagi Timnas Jerman lewat pernyataan Philipp Lahm: “I worked with it every single day. It showed you everything you wanted to know about the other teams and your own team”.
Sebagaimana ditambahkan Lahm, MI benar-benar memfasilitasi persiapan menjelang pertandingan: “A lot of things in World Cup came from the team itself. I looked at every game and tried to find out where we could improve for the next one”. Jika belum merasa yakin dengan apa yang harus dilakukan, para pemain boleh mengakses MI lewat smartphone beberapa menit sebelum kick-off.
Project Manager SAP, Andrew McCormick-Smith, menjelaskan bahwa salah satu esensi MI adalah menyajikan data yang ‘tak terlihat’. Data yang akrab di sepakbola ialah kuantitatif—numerik dan presentase. Namun, selalu ada kemungkinan bahwa data kuantitatif tidak menggambarkan pertandingan seutuhnya. Berikut ini adalah contoh statistik satu pertandingan di Piala Dunia 2014:
| Stats | A | B |
| Goal Attempts | 14 | 18 |
| On Target | 12 | 13 |
Secara numerik, pertandingan tersebut tampak sengit karena kedua tim saling beradu tembakan. Namun, itu adalah pertandingan Jerman (A) lawan Brazil (B) di semifinal yang berkesudahan 7-1. Di sini, analisis kualitatif-lah yang dapat menjawab mengapa kemenangan telak Jerman bisa terjadi.
McCormick-Smith pun mengaku sudah mengantisipasi adanya kemungkinan di atas: “We didn’t want to bombard coaches and players with numbers. We concentrated on qualitative analysis instead, how do certain teams play, how do they defend corners, etc.” Penyajian analisis kualitatif di MI akhirnya membantu pemain dan pelatih menemukan skenario relevan untuk mengambil keputusan demi pengembangan performa tim.
Dampaknya, pelatih dan pemain mencapai level sinergi yang lebih tinggi. Pola komunikasi top-down dari staf pelatih ke pemain seketika memudar. Dengan data yang diketahui, para pemain dibebaskan membawa perspektif personal dan memberi masukan mengenai laporan scout ataupun arahan pelatih—tak hanya angguk-angguk saja.
Tak hanya peningkatan level sinergi, Bierhoff menambahkan bahwa MI membuat briefing pemain menjadi lebih cepat dan dinamis. Pemain tidak harus menonton pertandingan selama 90 menit, seperti zaman Bierhoff masih bermain. Klip yang diunggah bersifat spesifik dan berdurasi sekitar sepuluh detik untuk menghindari time-consuming preparation di tengah-tengah padatnya jadwal.
Dengan MI, video analyst Timnas Jerman pun tidak harus membuat perjanjian terlebih dahulu dengan pemain apabila ingin menunjukkan sesuatu. Keberadaan aplikasi membuat para analis bisa lebih dekat dengan sang pemain.
Project Manager SAP lainnya, Jens Wittkopf, punya cerita lain lagi. Wittkopf mengisahkan bahwa MI menghadirkan level engagement yang tinggi di Campo Bahia—markas skuat Jerman di Brazil. Selain tersedia di smartphone , MI juga ada di iMac Pro hitam 27 inch yang bisa dilihat bersama-sama di satu tempat. Efeknya, para pemain tidak hanya saling mengirim dan bertukar komentar di klip aplikasi saja, tetapi juga mendiskusikannya secara berkelompok di iMac.
Dengan situasi itu, analisis dan persiapan pertandingan telah menjadi ‘social effort’. Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan McCormick-Smith: “The coaches told us that the screen was ‘a social point’ in the camp”. Kutipan ‘the screen as a social point’ memperlihatkan bagaimana kultur data benar-benar terbentuk.
Kultur data menggambarkan adanya kesadaran dari seluruh komponen tim akan nilai data yang bisa membantu meraih kesuksesan. Menurut Bernard Marr dalam buku Data Strategy: “It is crucial if you’re to get the very most out of data. The result will be smart, efficient organization that can leverages data successfully and continuously looks to improve”. Sungguh persis dengan apa yang terjadi.
*
Artikel ini ialah buah dari secuplik ide/tema buku Data Strategy oleh Bernard Marr (Kogan Page, 2017); dan Das Reboot: How German Football Reinvented Itself and Conquered The World oleh Raphael Honigstein (Yellow Jersey Press, 2015) . Seluruh kutipan berasal dari sumber yang sama.
