1. Home
  2. Blog
  3. Bermain ke Rumah Sherlock Holmes

Bermain ke Rumah Sherlock Holmes

Saat di London (16/3), saya menginap di salah satu apartemen di George Street, Marylebone. Ketika saya tahu bahwa George Street bersilangan dengan Baker Street, asosiasi yang langsung muncul di kepala ialah rumah Sherlock Holmes.

Karakter Sherlock Holmes lekat dengan alamat rumahnya di 221B Baker Street. Setelah saya cek ‘Sherlock Holmes’ di Google Maps, tempatnya benar-benar ada dengan nama ‘Sherlock Holmes Museum’, dan hanya berjarak 1,1 mil dari tempat menginap.

Saya sebenarnya ingin langsung datang ke sana. Namun, saat itu saya baru sampai tempat menginap ketika sudah sangat malam—dan museum sudah tutup.

Beruntung, saya tidak merasakan jet lag karena sepanjang perjalanan di pesawat tidak tidur sama sekali. Esok harinya, saya berjalan kaki ke sana sekitar pukul empat sore tanpa rasa kantuk. Suasana saat itu cukup ramai orang berlalu-lalang. Cuacanya cerah, tidak terlalu dingin, bahkan matahari cukup terik.

Sembari berjalan, saya melihat bahwa Sherlock Holmes Museum berdekatan dengan beberapa titik keramaian seperti Madame Tussauds Museum, University of Westminster, dan Marylebone Road.

Setelah sampai dan memasuki bangunan 221B Baker Street, saya merasa disuguhkan nuansa klasik dengan furnitur ala Eropa zaman 1800-an akhir. Beberapa sudut ruangan dipasang lampu lilin gantung yang menyala kuning redup dan lukisan corak renaisans yang digambar di dinding atas. Selain itu, ada juga banyak gambar berpigura di antara wallpaper dinding berwarna cokelat.

Penjaga museum pun berpenampilan ala zaman kuno—pakaian housemaid Victorian untuk staf wanita dan setelan tuxedo untuk staf pria. Lantai satu bangunan tersebut digunakan untuk toko cenderamata dan meja resepsionis di depan pintu akses museum di lantai atas.

Untuk masuk ke lantai atas, saya membayar tiket adult seharga 15 poundsterling. Saya pun mendapatkan selembar pamflet guide. Sayangnya, ketika melihat-lihat ruangan museum, saya kurang mengenal pernak-pernik detail seperti di ruang tidur Dr. Watson atau meja kerja Holmes di lantai dua. Paling hanya buku catatan, koper, dan kursi Holmes saja yang saya kenali. Saya sebenarnya bukan pembaca maniak ataupun fan Sherlock Holmes; dan baru membaca beberapa nomornya saja.

Rumah Sherlock Holmes
Replika kamar tidur Dr. Watson yang ada di lanta dua Sherlock Holmes Museum 15/3/2017).

Sementara itu, staf museum yang berlalu-lalang sama sekali tidak memberikan penjelasan layaknya museum guide. Tetapi, kehadiran mereka sedikit menambah nuansa sedang berada di zaman lampau. Selain tidak melarang pengunjung menyentuh properti museum, mereka juga melayani tiap pengunjung dengan gestur yang friendly saat ada yang meminta bantuan.

Rumah dengan Nuansa Imajinatif

Menurut saya, keunikan Sherlock Holmes Museum tidak seperti museum pada umumnya yang punya peninggalan sejarah dan dokumen asli dari masa lampau.

Museum yang dibuka pada 1990 oleh Sherlock Holmes International Society ini lebih memunculkan nuansa ‘imajinatif’, dimana tempatnya dibangun menyerupai deskripsi dalam cerita. Tetapi, siapa pun yang merancang museum ini pasti menyukai hal-hal detail dengan adanya surat kabar dan foto Baker Street pada masa Sherlock Holmes ‘hidup’.

Sebagai informasi, menurut catatan kependudukan kota yang bersangkutan, alamat Baker Street 221B tidak pernah ada. Pada kurun 1881-1904, atau ketika cerita-cerita Sherlock ditulis oleh Sir Arthur Conan Doyle, alamat di Baker Street hanya ada hingga nomor seratusan. Pada saat diadakan sistem penomoran baru pada 1930-an pun, rumah nomor 221 terletak bersamaan dalam bangunan besar Abbey National Building Society. Intinya, tidak pernah ada orang yang dulu pernah tinggal di nomor 221.

Secara faktual, Sherlock Holmes Museum dibangun di nomor 239. Konon, bangunan museum ini sebelumnya tercatat sebagai rumah penginapan. Karena dianggap situs warisan budaya, Pemerintah Kota Westminster akhirnya memberikannya nomor 221B.

Rumah Sherlock Holmes
Salah satu sudut ruangan tempat duduk Holmes beserta selembar guide yang diberikan oleh staf museum (15/3/2017).

Hal itu kontras dengan Rumah Laksamana Tadashi Maeda misalnya, atau yang dikenal sebagai Museum Penyusunan Naskah Proklamasi Indonesia di Jalan Imam Bonjol no. 1, Jakarta Pusat. Rumah tersebut secara administratif memang benar-benar ada dan digunakan sejak dulu.

Kediaman Laksamana Maeda dipelihara agar tetap menyerupai kondisi masa lalu—tidak akan mungkin meja dan mesin ketik naskah yang digunakan Sayuti Melik dipindah ke teras depan. Rumah tersebut juga menjadi bagian dari sejarah Republik Indonesia yang faktual. Meski begitu, nilai kesan Museum Naskah Proklamasi hanya terbatas pada kalangan Indonesia saja, tidak seperti karakter Holmes yang mendunia.

Hanya saja, dengan karakter museum ‘buatan’, kalangan pembaca Sherlock Holmes sudah pasti lebih memunculkan pro dan kontra mengenai ‘bagaimana acuan rumah sesungguhnya’ yang digunakan Sir Arthur Conan Doyle.

Rumah Sherlock Holmes
Beberapa bentuk pernak-pernik bernuansa Sherlock Holmes yang dijual di toko cenderamata museum 15/3/2017).
Rumah Sherlock Holmes
Keadaan toko cenderamata Sherlock Holmes Museum setengah jam sebelum tutup 15/3/2017).

Setelah selesai melihat-lihat museum di lantai atas, saya kembali turun untuk ke toko cenderamata. Banyak sekali produk pakaian, gantungan kunci, kartu pos, buku cerita, miniatur karakter, mug, serta plang jalan Baker Street 221B. Cerutu dan topi ikonik yang digunakan oleh Holmes pun bisa didapatkan.

Saya membeli beberapa gantungan kunci yang masing-masing harganya 4-5 poundsterling untuk oleh-oleh. Berhubung saat itu hari pertama di sana, saya tidak mau berlebihan membeli barang.

Sore itu, waktu menunjukkan pukul 5.30 dan toko masih ramai pengunjung. Sayangnya, saya tidak bisa berlama-lama karena museum akan tutup. Bicara jam operasional, di seantero Britania Raya, rata-rata tempat publik seperti museum, restoran, bahkan coffeeshop seperti Costa dan Starbucks hanya buka sampai pukul enam sore.

Rumah Sherlock Holmes ini sendiri merupakan dedikasi dari sesama penggemar untuk penggemar. Bagi fan Holmes yang berkesempatan pergi ke London, saya menyarankan untuk berkunjung karena atmosfernya menyenangkan dan menawarkan pengalaman menarik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *