1. Home
  2. Blog
  3. Semakin Banyak (Perbincangan) Indonesia di Turki

Semakin Banyak (Perbincangan) Indonesia di Turki

Kalau dipikir-pikir, negara yang akrab dengan dialog Bahasa Indonesia (selain Indonesia sendiri) mungkin hanya Malaysia, Brunei Darussalam, atau Singapura. Tak heran karena mereka saudara serumpun. Tapi, diam-diam, Turki mulai masuk hitungan.

Di tengah pertokoan kota Istanbul, banyak sekali pedagang yang pede bicara Bahasa Indonesia untuk menawarkan dagangannya kepada wisatawan Tanah Air. Ada yang masih terbata-bata, ada juga yang sudah layaknya orang Jakarta.

Penjaja pinggiran jalan yang belum lancar biasanya cuma pakai kalimat: “bapak ibu, 50 ribu saja,” sembari menunjukkan dagangan. Mereka biasanya memukul rata harga senilai gocap (setara 23 lira) untuk pakaian dingin hingga beragam makanan. Bagi yang sudah lancar, mereka langsung saja lamis seperti penjual pada umumnya.

Selain pedagang, mulai banyak tour guide Turki yang berani memandu wisatawan Tanah Air dengan Bahasa Indonesia. Setidaknya, turis Indonesia tak perlu repot meminta bantuan jika terjadi apa-apa, meski para guide itu juga sering mengeluarkan paduan kalimat aneh yang memancing gelak tawa.

Salah ucap tergolong wajar, dan saya adalah orang yang mau memakluminya. Suatu hari, saya disapa petugas keamanan di depan pintu masuk Grand Bazaar Istanbul dengan kalimat “selamat pagi”. Padahal, saat itu jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore.

Untuk mengapresiasi kepercayaan diri Pak Polisi, bolehlah saya balas anggukan dan senyuman sebelum ngacir. Toh ke-pede-an semacam itu tak bisa selalu ditemukan dalam diri saya sendiri waktu belajar bahasa lain.

Suasana Grand Bazaar Istanbul menjelang tutup (25 Januari 2020).

Keadaan di atas mungkin terkesan biasa. Tetapi, saya belum tentu menemuinya di setiap negara yang saya pernah kunjungi.

Banyaknya orang Turki yang bisa (dan berkeinginan) berbahasa Indonesia tentu ada sebabnya, yakni membludaknya turis Tanah Air.

Pada caturwulan pertama 2017, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Turki mengumumkan adanya 33 ribu orang Indonesia yang singgah ke bekas wilayah Konstantinopel. Jumlahnya mungkin belum banyak, tetapi angka itu mencerminkan pertumbuhan 97 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Presentase itu meledak berkali-kali lipat dalam waktu singkat. Jumlah kedatangan turis Indonesia sepanjang 2019 akhirnya menembus satu juta.

Ledakan ini bisa dibilang menjadi efek dari promosi ‘Halal Tour’. Dengan kesamaan latar belakang mayoritas pemeluk Islam, Turki menjelma sebagai destinasi tambahan untuk para jamaah umrah yang selalu ada tiap pekan. Eksotisme situs sejarah seperti Blue Mosque dan Hagia Sofia rata-rata menjadi list terfavorit biro tur dan travel dalam rencana perjalanan.

Orang-orang Turki di bidang pariwisata kemudian menanggapi membludaknya turis Indonesia dengan serius. Salah seorang teman saya asal Turki, Onur, yang bekerja sebagai tour guide resmi, rela membobol tabungannya demi ke Indonesia pada awal 2019 lalu. Ia menetap dan belajar Bahasa Indonesia di Yogyakarta, tepatnya di daerah Maguwoharjo, selama tiga bulan.

Onur tak sendirian. Ia mengajak serta dua orang temannya yang juga pemandu wisata resmi. Salah satu di antaranya bahkan rela menjual mobil karena sedang tidak ada duit. Mereka yakin, penguasaan Bahasa Indonesia bisa mendatangkan penghidupan yang lebih baik.

Petualangan Onur dan kawannya dimulai dengan mencari buddy untuk partner ngobrol. Mereka kemudian bepergian dan bertemu orang-orang baru tiap harinya. Dengan banyaknya kultur penduduk yang bercampur di Yogyakarta, mereka setidaknya bisa mengenal karakter orang Indonesia secara umum.

Antusiasme itu nyatanya masih terjaga hingga sekarang. Sebagai contoh, Onur dan kedua temannya masih sering mengunggah proses belajarnya di laman Instagram masing-masing, entah sekadar membuat caption atau story. Adapun beberapa cara lain yang ditempuh meliputi membaca buku dan membuat tabel kosa kata.

Saya yakin tiap bulannya ada orang Turki yang melakukan hal serupa demi prospek pemasukan pribadinya kelak. Paling tidak, dari sejuta lebih wisatawan Tanah Air tiap tahun (dan mungkin akan terus berkembang), tiap guide lokal bertutur Indonesia di sana bakal kebagian lahan pekerjaan tiap pekan.

Wisatawan asal Indonesia menyambangi kios barang antik di kota Bursa, Turki (24 Januari 2020).

Perlu disadari, timbal balik sosial di atas juga terwujud karena membaiknya kondisi ekonomi dan hubungan bilateral antarnegara.

Jika dikilas balik, aktivitas kerja sama Indonesia dan Turki sebenarnya sudah terjalin sejak 1538. Alauddin Riayat Syah (Sultan Kerajaan Aceh) pernah meminta bantuan kepada Turki Ottoman (era Sulaiman) untuk membangun pertahanan di darat serta keamanan untuk jamaah haji yang berlayar ke Mekkah.

Setelah hubungan kedua negara sempat stagnan ratusan tahun akibat imperialisme dan masalah krisis pasca-merdeka, Aceh kembali menjadi momentum terjalinnya persahabatan meski lewat bencana Tsunami 2004. Turki ikut mendirikan posko bantuan kesehatan dan pendidikan.

Bantuan Turki kemudian direspons positif oleh Pemerintah Indonesia. Kedua negara akhirnya merancang dan menyepakati berbagai kontrak kerja sama, salah satunya keringanan visa. Terbukti, kebijakan itu berhasil mendongkrak volume wisatawan. Kebetulan, faktor jumlah penduduk membuat Indonesia menjadi penyumbang masif pemasukan pariwisata Turki.

Dilansir dari laman Anadolu Agency (2019), sentimen afeksi Turki terhadap masyarakat Indonesia pun makin bertumbuh. Tanpa tanda-tanda hambatan berarti, di masa yang akan datang, tampaknya akan semakin banyak perbincangan berbahasa Indonesia di Turki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *