“Jebret jebret jebret jebret… tandukan Garuda Pancasila… mampu untuk merobek gawang daripada Myanmar… adalah Egy Messi kelok sembilan yang mampu untuk membuat Indonesia gempar sampai Merauke… berikan aku sepuluh ribu orang tua akan kucabut Gunung Semeru dari akarnya, berikan aku sepuluh pemuda akan kuguncangkan dunia…” (Valentino Simanjuntak dalam Indonesia vs Myanmar, Indosiar, 5 September 2017)
Publik sepak bola Indonesia pasti tidak asing dengan suara komentator Valentino Simanjuntak, atau yang lebih dikenal ‘Bung Jebret’. Ia kerap memandu jalannya pertandingan Timnas di beberapa televisi swasta.
Gaya komentarnya yang lantang, meledak-ledak, bertempo cepat, bermain dengan hiperbola, serta gemar memberi julukan kepada pemain membuatnya mudah dikenali masyarakat.
Ia seringkali mengutarakan dukungan untuk tim Indonesia—dengan kalimat seperti “siapa kita? Indonesia!”, “jangan sampai berhenti mendoakan timnas agar menang” atau “teruslah memberi semangat dari depan layar kaca di mana pun pemirsa berada” dengan menyebutkan nama-nama kota seantero Nusantara.
Sepanjang pertandingan Timnas berjalan pun, ia sering berharap pemain Indonesia mencetak gol dan terhindar dari kebobolan.
Melihat tendensi dukungan yang kerap dituturkan, rasanya betapa signifikan pengaruh seluruh masyarakat agar Timnas berjaya. Suporter memang membawa kekuatan yang besar sampai disebut-sebut pemain ke dua belas. Secara bersamaan, televisi swasta nampaknya juga memiliki agenda nasionalis dengan memilih komentator yang bisa memompa rasa bangga kepada Timnas.
Tapi, sekuat apa pun wacana dukungan dari layar kaca selama ini nyatanya tidak mengubah apa pun dari segi prestasi. Prestasi Indonesia sejauh ini paling mentok hanya juara pada level junior—U-19 dan U-16. Jangankan prestasi, sekadar bermain menghibur saja belum tentu.
Selain ‘Bung Jebret’, ada juga Hadi Gunawan yang dikenal dengan jargon ‘ahay’. Sampai detik ini, mereka masih menjadi yang terlaris di dunia penyiaran sepak bola nasional.
Sayangnya, kuatnya persona dan jargon masing-masing komentator tersebut tidak disertai dengan penyajian informasi yang mendalam. Bisa dibayangkan bahwa komentator tersebut selama ini hanya memposisikan sepak bola sebagai pertunjukan emosi tingkat tinggi.
Pertunjukan emosi tingkat tinggi semacam ini sebenarnya bukan barang baru di dunia. Jerman pernah mengemas sepak bola sebagai produk tontonan yang tidak kalah dramatis. Raphael Honigstein, dalam buku Das Reboot (2015), mengatakan bahwa pada akhir 90-an, stasiun televisi Sat1 di Jerman mendorong agenda khusus untuk menonjolkan sisi love, hate, dan anger yang terjadi di dalam dan luar lapangan.
Beberapa contohnya adalah kamera yang acapkali memperlihatkan reaksi suporter, respons pemain di bangku cadangan saat ada kejadian tertentu, hingga menyorot ekspresi tegang seorang pelatih yang penuh keringat saat berdiri di pinggir lapangan. Setelah pertandingan selesai, pertanyaan berbau kontroversial tidak lupa dilayangkan kepada pemain yang akan memasuki ruang ganti.
Kemudian, analisa pertandingan di waktu jeda dan seusai pertandingan hanya berbicara sisi psikologis. Ini serupa dengan yang ada di dalam negeri, sebagaimana komentator yang hampir selalu menyebutkan ‘bermain di bawah tekanan’, ‘kurangnya keberuntungan’, hingga ‘pelajaran berharga’ kepada tim yang kalah.
Sedangkan untuk tim yang menang, beberapa kalimat yang familiar adalah ‘bermain dengan sangat kompak’, ‘menikmati jalannya pertandingan’, hingga ‘adanya semangat pantang menyerah’. Pemain terbaik dalam sebuah pertandingan pun tak jarang hanya dideskripsikan sebagai figur yang ‘rajin membantu pertahanan’ atau ‘bermain luar biasa’.
Satu hal yang terlewatkan ialah pemahaman mengenai apa yang terjadi sesungguhnya di lapangan. Pemirsa layar kaca bisa langsung melihat hal yang kasat mata seperti umpan-umpan pendek antarlini. Tetapi, kecenderungan komentator televisi nasional hanya sebatas mengulang dengan ucapan mengenai apa yang bisa kita lihat—tanpa adanya pengetahuan yang mendalam soal taktik permainan dan kemungkinan sebab sang pemain melakukan itu. Dengan situasi ini, terdapat urgensi objektivitas untuk membawa wacana publik ke arah yang lebih baik.
Mengubah wacana publik dengan memunculkan objektivitas dalam tayangan sepak bola bukanlah isapan jempol belaka. Pada 2005, stasiun televisi ZDF yang berbasis di Mainz, Jerman, membuat terobosan besar dalam mengemas tontonan sepak bola layar kaca.
ZDF, yang kala itu menyiarkan Piala Konfederasi 2005 yang diselenggarakan di Jerman, memutuskan untuk memilih komentator yang berkecimpung langsung di lapangan hijau. Ia adalah seseorang dengan kemampuan retorika tinggi yang saat itu menjabat sebagai manajer Mainz 05. Pria kelahiran Stuttgart itu kini dikenal sebagai manajer Liverpool, yakni Jurgen Norbert Klopp.
Pemilihan Klopp sebagai pandit waktu itu dianggap memiliki resiko tinggi bagi ZDF karena karirnya yang hampir nirprestasi. Sebagai pemain, ia tidak meraih satu pun gelar. Sebagai manajer, ia baru bisa membawa Mainz 05 promosi ke Bundesliga. Klopp pun masih berusia relatif muda dan masih minim pengalaman.
Namun, Jan Doehling selaku editor dari ZDF mengemukakan bahwa stasiun televisi yang bersangkutan yakin bahwa Klopp bisa memberikan penyegaran dengan kemampuannya berkomunikasi.
Christoph Biermann, salah satu jurnalis sepak bola di Jerman, mengatakan bahwa Klopp membawa peran yang belum pernah ada dari para komentator sebelumnya. Alih-alih memberikan pembuktian mengenai tim mana yang lebih memiliki motivasi untuk menang, ia benar-benar mengidentifikasi apa yang sedang berlangsung di lapangan, seperti kesalahan posisi bek sayap yang menyebabkan terjadinya gol; atau pemain bertahan yang lambat merespons tendangan gawang lawan sehingga membuka celah.
Klopp melakukannya dengan video tool yang mampu menunjang penjelasannya—berupa layar yang bisa di-pause dan dimainkan sudutnya, serta memungkinkan dirinya menggambar garis, lingkaran, dan menandai pemain.
Perbedaan yang Klopp hadirkan adalah penyampaian aspek taktikal yang logis dan rinci dengan pembawaan menghibur. Tak jarang ia mengeluarkan lelucon yang mengecilkan dirinya sendiri agar tidak terkesan menggurui. Biermann kemudian mengamini bahwa Klopp berhasil mengubah paradigma masyarakat Jerman dalam mendiskusikan sepak bola.
Bisa dikatakan bahwa keputusan ZDF memilihnya sebagai pandit membawa kesuksesan. Stasiun televisi yang bersangkutan mendapatkan German Television Award atas terobosan tersebut. Begitu pula Klopp yang menyabet Deutscher Fernsehpreis pada 2006.
Jika dilihat dari sudut pandang penyiaran nasional saat ini, konten siaran secara umum masih terlalu sering menggali habis sisi emosional dari sebuah peristiwa. Dalam konteks tayangan sepak bola, pandit ‘esensial’ ala Klopp sama sekali belum menjual dibanding yang ‘sensasional’.
Saya tidak bermaksud mengecilkan komentator nasional yang populer saat ini. Namun, wacana publik atas sepak bola yang kurang berkembang sudah lama membuat saya gerah. Televisi nasional yang sering menyiarkan pertandingan Timnas perlu membuat gebrakan dengan menggunakan komentator yang mumpuni secara pengetahuan taktikal—tak sekadar berkarakter.
Setidaknya, jika timnas kalah, pemirsa bisa tahu bahwa aspek psikologis yang normatif itu bukan satu-satunya penyebab kekalahan. Ketidakbecusan taktikal bisa menjadi informasi penting yang bisa dijadikan perbincangan publik dan pengembangan wawasan baru. Dengan informasi mendalam, komentator dapat mewujudkan nuansa objektivitas dan netralitas—sebagaimana sesuai dengan prinsip utama media.
Peran media dan komentator sudah seharusnya membawa esensi, bukan hanya berat di sensasi.
*
Artikel ini ialah buah dari secuplik ide/tema buku Das Reboot: How German Football Reinvented Itself and Conquered The World oleh Raphael Honigstein (Yellow Jersey Press, 2015) . Seluruh kutipan berasal dari sumber yang sama.
