Honigstein membuka Das Reboot: How German Football Reinvented Itself and Conquered The World dengan mengutip lirik pembuka ‘Control’ dari Janet Jackson (1986): “This (book) is about control’. Saya tertarik menyorot konteks kontrol di satu bagian, yakni proses pendidikan mental untuk jangka panjang.
Dalam sebuah wawancara pada Mei 2004, Jens Lehmann, yang saat itu menjadi kiper utama di Arsenal, mengungkapkan satu permasalahan besar sepanjang sejarah sepak bola Jerman. Masalah itu ialah führungsspieler, atau the leading player, yang menggambarkan pemain yang paling diandalkan untuk membawa timnya meraih kemenangan.
Masih lekat dalam ingatan saya bagaimana Oliver Kahn memimpin skuad Jerman pada Piala Dunia 2002 yang berhasil menembus final. Saking bagus performanya, salah satu komentator sepak bola Jerman, Marcel Reif, menggambarkan turnamen tersebut dengan 3K—Kahn, Kampf (bertarung), Kopfball (sundulan).
Di samping Kahn, ada juga Michael Ballack yang dipasang Rudi Voller sebagai sistem permainan itu sendiri. Bahkan, Voller menyebut secara terang-terangan formula andalannya: “clean sheet plus Ballack header or shot from outside the box”. Hal ini nyatanya terbukti pada partai final: absennya Ballack karena akumulasi kartu dan kesalahan Kahn di saat-saat akhir membuat Jerman harus puas di tempat kedua.
Publik Jerman pun memuja keduanya sebagai pemain bintang—khususnya Kahn yang menyabet World Cup XI, Golden Ball, dan Golden Glove sekaligus. Namun, sosok Kahn dan Ballack menyiratkan permainan Nationalmannschaft yang tidak ada variasi secara taktikal. Sepak bola belum sepenuhnya dipandang sebagai sebuah unit yang melibatkan sebelas pemain beserta cadangannya.
Tak hanya dari segi permainan, führungsspieler dikenal dengan karakter keras dan ego tinggi. Jauh sebelum Kahn, publik sepak bola dunia tidak asing dengan führungsspieler seperti Beckenbauer, Fritz-Walters, dan Matthaeus.
Keikutsertaan Nationalmannschaft pada Piala Dunia 1982 Spanyol memperkuat stereotip karakter tersebut. Harald ‘Toni’ Schumacher, kiper Jerman saat itu, dengan brutal menerjang pemain Prancis, Patrick Battiston, ketika sedang berebut bola di kotak penalti pada babak semifinal. Battiston mengalami cedera tulang belakang dan kehilangan dua giginya.
Schumacher, yang tidak dikenai hukuman kartu, bertingkah seolah tidak ada apa-apa dan hanya melempar gestur untuk melanjutkan pertandingan.
Setelah pertandingan usai dengan kemenangan Jerman, Schumacher merespon kejadian tersebut dengan menawarkan perawatan Battiston dengan nada sarkas. Kejadian tersebut sempat memicu krisis politik kedua negara—mereda ketika Kanselir Helmut Kohl dan Presiden Francois Mitterrand meredakan suasana pada dua tahun berikutnya dengan menggelar pertandingan persahabatan.
Winston Churchill pernah menyatakan bahwa ia mengagumi orang-orang Jerman, tetapi tidak dalam hal ‘menyanjung kekuatan dan para pemimpinnya’. Inti dari pernyataan tersebut, secara tidak langsung, ialah siapa pun tidak perlu terlalu tertumpu pada satu orang karena semua bisa berkontribusi dengan baik.
Kultus führungsspieler perlahan mulai terkikis dengan reformasi pendidikan untuk pesepak bola muda. Ide ini sebenarnya telah dicanangkan pada 1996 seiring dengan rencana Jerman untuk maju sebagai tuan rumah Piala Dunia 2006. Namun, DFB sebagai federasi sepak bola Jerman baru menjalankan empat tahun kemudian, seiring dengan kegagalan timnas senior Jerman di Piala Dunia 1998 (disingkirkan oleh Kroasia 0-3 di babak perempatfinal) dan terhenti di fase grup Euro 2000.
Kegagalan di dua turnamen tersebut disebabkan penurunan kualitas pemain. Usia rata-rata skuad Jerman di Euro 2000 sangat tinggi—hanya Michael Ballack dan Sebastian Deisler yang masih di bawah 25 tahun. Eksodus pemain asing ke Bundesliga pun makin memperkecil kesempatan talenta lokal untuk menunjukkan dirinya.
Kesadaran untuk tidak bisa terus-menerus bertumpu pada führungsspieler pun memperkuat urgensi inovasi pembinaan pemain muda.
DFB membangun jaringan perekrutan pemain U-12 dan tempat pelatihan pemain muda yang setidaknya tersebar dalam 366 lokasi seantero Jerman. Desentralisasi pelatihan mampu menjangkau talenta yang berasal dari daerah terpencil—Toni Kroos menjadi salah satu hasilnya.
Apabila pemain muda tidak berkesempatan bermain di klub, mereka bisa latihan bermodalkan materi kurikulum yang disediakan DFB, yang selalu diperbarui demi optimalisasi. Gaung bersambut, berbagai aturan pendukung pun disiapkan. Sejak musim 2002-03, untuk bisa berkompetisi di level atas, klub Bundesliga diharuskan memiliki akademi pemain muda.
Untuk membina para pemain muda, tiap akademi klub mengadakan kerjasama dengan sekolah terdekat yang memiliki kelayakan. Pemain muda mendapatkan jadwal berlatih tanpa meninggalkan sekolahnya.
Menarik untuk mengutip pengalaman Philipp Lahm, sebagai generasi pertama hasil pembaruan sistem pendidikan: “…everything became a lot more professional. I remember going to Bayern every Tuesday and Thursday after school, at 2 pm. Training, lunch, then there was ninety minutes of studying with teachers, then another training session. You had to get all your schoolwork sorted out, they were checking your grades”.
Volker Kersting, Youth Director dari FSV Mainz 05, berpendapat bahwa sekolah adalah prioritas utama. Menurutnya, menjadi pemain pintar dengan skill apik adalah kewajiban, namun kedewasaan yang terbentuk dari pendidikan akan menjadi kualitas krusial yang dapat membekali diri sendiri atas apa pun yang terjadi kelak.
Pernyataan Kersting di atas sangat realistis. Semakin besar pemain muda menggantungkan harapan sebagai pesepak bola profesional, semakin besar pula tekanannya. Jika menemui kegagalan, dampak negatif dari depresi akan menghantui.
Ulf Schott, Direktur DFB, kemudian memperkuat pentingnya edukasi mental: “That’s why we have to counter-balanced it. Making sure we understand the value of family, friends, and education. We have to seek educational and psychological help”.
Salah satu yang perlu dicatat dalam mengembangkan mentalitas pemain muda ialah kedewasaan yang terbangun di waktu yang berbeda-beda. Oleh karenanya, latihan mental dan sesi psikolog terus dilakukan untuk memaksimalkan potensi seluruh pemain.
Kebutuhan fisik yang berat dalam sepak bola modern pun semakin membutuhkan kekuatan mental tingkat tinggi. Tiap pemain muda dituntut untuk memiliki kesabaran untuk mendengarkan dan memperbaiki kesalahan yang diperlihatkan lewat sesi analisa video latihan.
Mereka juga dilatih untuk bisa berfungsi dalam ketidaknyamanan di berbagai situasi dan posisi. Dengan kata lain, seluruh sesi di atas membiasakan profesionalitas pesepak bola muda dengan tekanan di dalam dan luar lapangan.
Hasil dari pendidikan mental setidaknya tercermin dari sosok Lahm dan Bastian Schweinsteiger. Kedua produk akademi Bayern Munich, yang kemudian menjadi pilar penting di tim senior yang sama, menghapus stigma kapten FC Hollywood yang lekat dengan sensasi. Kedua sosok tersebut lebih tenang, dapat beradaptasi dengan baik, dan memiliki persona sebagai pemain yang bisa diandalkan.
Markus Horwick, press officer Bayern Munich, mengungkapkan alasan bahwa pemain produk akademi di Jerman tidak lagi membutuhkan media training karena profesionalitas yang terasah sejak dini: “…they arrive as fully-fledged pros, aware of their duties and the pitfalls of the mixed zone”.
Lahm dan Schweinsteiger pun sukses memimpin skuad Nationalmannschaft menjuarai Piala Dunia 2014. Pada awalnya, figur kapten Jerman yang cenderung ‘lembek’ dibandingkan dengan pendahulunya sempat dijadikan bahan teguran keras berupa ketiaadan karakter. Namun, mereka berhasil membuktikan diri sebagai figur pemimpin era baru, dan führungsspieler tidak lagi relevan.
Peran sebagai kapten ala mereka ialah kecerdasan mendorong rekan setimnya untuk maju bersama. Sejalan dengan itu, rekan-rekannya menunjukkan hal serupa. Per Mertesacker mau berlarian sebagai pengantar botol minuman di pinggir lapangan saat kontra Perancis di perempatfinal. Begitu pun Sami Khedira, yang awalnya masuk line-up, tetapi mengorbankan posisi starternya untuk Christoph Kramer karena cedera otot betis jelang partai final.
Pendidikan berpengaruh besar dalam menghapus kultus führungsspieler, sebagaimana terdapat evolusi kekuatan ego dari masa lalu yang telah melebur menjadi semangat etos tim.
*
Artikel ini ialah buah dari secuplik ide/tema buku Das Reboot: How German Football Reinvented Itself and Conquered The World oleh Raphael Honigstein (Yellow Jersey Press, 2015) . Seluruh kutipan berasal dari sumber yang sama.
