Perjalanan saya ke Stadion Kapten I Wayan Dipta pada sore itu (19/1/2018) meninggalkan kesan khusus, yakni industri merchandise sepakbola ala klub Eropa kini bisa dirasakan di Indonesia. Namun, ada satu hal penting yang menjadi sorotan: ketersediaan jersey.
Ini bukan sebuah perjalanan yang direncanakan. Pada siang hari saat dalam perjalanan menuju Bangli, saya melihat konvoi motor beratribut merah di daerah Gianyar—beberapa di antaranya membawa bendera besar. Dengan sekejap, saya bisa memastikan bahwa akan ada pertandingan Bali United. Ketika saya tahu perjalanan pulang akan melewati Gianyar, saya punya kesempatan yang bagus untuk singgah ke stadion sore itu juga.
Sore itu, Bali United baru saja menyelesaikan pertandingan Grup D Piala Presiden 2018 melawan Borneo FC yang berkesudahan 3-2 untuk tim tuan rumah. Gol injury time Stefano Lilipaly pada menit 92 menjadi penentu kemenangan Serdadu Tridatu. Saya datang di stadion tepat setelah pertandingan berakhir, dimana pendukung tim tuan rumah sedang berbondong-bondong pulang melewati jalan becek karena diguyur hujan sedari pertandingan berlangsung. Raut muka puas serta suasana hangat menjadi ingatan yang membekas bagi saya ketika memasuki area stadion.
Saya penasaran ingin melihat langsung Official Merchandise Store Bali United. Jauh sebelum saya berkesempatan ke sana, saya telah mengetahuinya dari kanal YouTube Bali United yang membahas peresmian toko merchandise di dalam bangunan stadion. Terlebih lagi, mereka memproduksi sendiri pakaian yang digunakan untuk bertanding. Saya rasa, ini akan menjadi pengalaman yang membanggakan kala melihat langsung wujud komersialisasi klub Indonesia yang bergerak menyerupai industri sepakbola Eropa.
Official Merchandise Store Bali United senja itu diramaikan oleh suporter lokal. Begitu melewati pintu masuk, saya langsung mencari jersey kandang Bali United musim 2017 yang bisa dibilang ‘bersejarah’. Dengan jersey tersebut, Bali United berhasil menduduki posisi dua klasemen Liga 1 dan lolos ke Piala AFC 2018. Mereka pun sempat menduduki peringkat pertama klasemen sepanjang sejarah berkiprah di kompetisi nasional. Selain jersey, saya juga ingin membeli beberapa pernak-pernik kecil seperti botol minum, tas, atau scarf yang bisa digunakan sehari-hari.

Namun, sangat disayangkan, saya tidak menemui satu pun jersey resmi Bali United dijual di sana. Kedatangan saya yang bersamaan dengan gelaran Piala Presiden pun memunculkan perasaan aneh. Bali United masih bermain dengan jersey musim 2017, tetapi di merchandise store resmi malah tidak tersedia. Saya justru melihat pelapak jalanan—berjualan di sepanjang jalan menuju stadion—yang menjual jersey tiruannya.
Padahal, bagi fans casual sepakbola nasional seperti saya, yang gemar menonton sepakbola tetapi tidak memiliki satu pun klub jagoan di Indonesia, jersey resmi merupakan collectible item yang seharusnya bisa didapatkan di toko resmi sebuah klub. Sekali lagi, bagi klub mana pun, jersey adalah komoditas nomor satu yang wajib dipampang di etalase utama toko resmi.
Meskipun saat itu Bali United belum merilis jersey resmi musim 2018, ini tetap pengalaman yang mengecewakan. Paling banter, saya hanya melihat merchandise kaos ‘Road to Asia’; yang dipakai oleh Ilija Spasojevic dan rekan setim dalam campaign menyambut keikutsertaan klub Pulau Dewata tersebut di kancah Asia. Setelah sekitar lima belas menit berada di sana, saya hanya membawa pulang gym sack hitam bertuliskan Bali United yang lengkap dengan logonya. Kesan saya setelah meninggalkan Official Merchandise Store Bali United hampir sama dengan mengunjungi toko olahraga biasa. Sebabnya bisa jadi karena saya tidak datang pada waktu yang tepat.

Jika mau berkaca dari negara tetangga, toko resmi klub lokal bisa meniru Geylang International FC Clubhouse. Dibandingkan milik Bali United, Geylang Clubhouse hanya berukuran kecil dan tidak berlokasi di stadionnya—terletak di Sin Lim Square, sebuah bangunan pertokoan kecil di daerah Rochor. Namun, official store Geylang International FC Singapore tersebut bahkan masih menjual jersey musim sebelumnya kala musim 2018 berlangsung. Ketersediaan ragam jersey resmi, baik home-away-alternate-goalie maupun musim saat ini dan sebelumnya, memanjakan pengunjung dengan meninggalkan ‘kesan yang lengkap’ setelah keluar dari official store.
Pada akhirnya, usaha Bali United—memproduksi jersey sendiri dan menjualnya di official store stadion sendiri—merupakan langkah menarik untuk perkembangan komersialisasi persepakbolaan nasional. Hanya saja, ketersediaan jersey resmi juga perlu dijaga. Menurut saya, klub sepakbola tidak perlu takut menjual jersey resmi-nya setiap waktu. Ribuan penggemar sepakbola, terlebih suporter fanatik klub yang bersangkutan, selalu menyimpan potensi besar dalam mendongkrak penjualan jersey.
